Friday, 08 October 2010 15:16

Facebook Melesatkan Konsumsi Listrik*

Written by  Jati Andrianto
Belakangan ini perhatian dunia bisnis global tertuju pada desakan lembaga-lembaga lingkungan dunia terhadap manajemen Facebook untuk membangun sekaligus menggunakan listrik berbasis renewable energy. Ini terkait dengan besarnya kebutuhan listrik untuk menjalankan operasional Facebook, baik secara langsung maupun tidak langsung. Facebook digunakan lebih dari 500 juta orang dan memiliki aset yang diperkirakan mencapai US$ 20 milliar, sehingga wajar jika konsumsi listrik yang digunakan sangat besar.

Menurut perhitungan para ahli, konsumsi listrik Facebook diprognosiskan mencapai 1,97 juta MW sampai dengan tahun 2020. Jumlah ini merupakan ratusan kali lipat dari total proyek pembangunan listrik yang sedang dibangun di Indonesia. Dari data yang dimiliki oleh Guardian menyatakan bahwa total konsumsi listrik Facebook tersebut kurang lebih sama besarnya dengan total pemakaian listrik saat ini untuk empat negara, yakni Perancis, Jerman, Kanada, dan Brasil.

Trade off Ekonomi

Facebook sebagai social media telah menjadi bagian dari rutinitas sebagian manusia di dunia. Melalui Facebook, seseorang mengelola jaringan sebagian jaringan pribadi dan bisnis. Dalam perkembangan ICT sampai saat ini, Facebook memainkan peranan yang sangat penting di samping berbagai aplikasi lainnya. Saat ini, setidaknya lebih dari 1 juta aplikasi ICT yang digunakan dalam membantu berbagai aktivitas, mulai kegiatan pribadi, bisnis, sampai dengan urusan keamanan negara.

Perkembangan yang pesat ini pada satu sisi telah memberikan maanfaat yang besar, namun di sisi lain menimbulkan trade off, yakni menambah porsi kebutuhan listrik yang relatif besar. Data mengenai kebutuhan listrik untuk ICT di seluruh dunia belum diketahui secara pasti. Namun saat ini diperkirakan jumlah kebutuhan pasokan listrik atas perkembangan ICT di seluruh dunia mencapai 100 juta MW. Jumlah kebutuhan ini sekitar setengah persen dari total kebutuhan listrik dunia yang sebesar 20 miliar MW.

Kebutuhan listrik untuk ICT tersebut telah menciptakan lapisan baru. Jika dulu, kebutuhan listrik untuk ICT menjadi satu bagian dengan kebutuhan lainnya, namun sekarang ini ICT memiliki peranan yang sama besarnya dengan sektor lainnya. Fenomena ini mau tidak mau akhirnya mengambil porsi baru atas penggunaan energi yang selama ini dari sisi pasokan masih berbasiskan minyak bumi dan batu bara. Dengan demikian, perkembangan pesat ICT yang ada sekarang akhirnya turut berperan dalam peningkatan emisi karbon sekaligus pemanasan global kian meningkat.

Trade off yang tersebut sebenarnya patut diantipasi, karena kehadiran ICT sendiri sebenarnya didesain sebagai solusi atas berbagai permasalahan. Berpijak pada trade off inilah, maka berbagai pihak di seluruh dunia mendesak korporasi-korporasi di sektor ICT untuk mendesain produknya untuk lebih efisien dalam penggunaan energi sekaligus yang memakai renewable energy sebagai bagian dari bahan bakar yang dipakainya.

Era Ekonomi Baru

Dengan menggabungkan perkembangan pesat ICT nan canggih yang berbasiskan renewable energy ini diharapkan akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian bukan hanya di tingkat negara tetapi juga dunia. Green yang menitikberatkan pada kebersihan lingkungan dalam menjalankan aktvitas bisnis, serta ICT dengan kecanggihan yang ada menjadi era baru perekonomian.

Greenitnomics (Green & IT Nomics) tersebut tidak hanya memberikan berbagai efisiensi dan efektivitas atas kegiatan bisnis tetapi juga akan langsung berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Berbagai efisiensi dan efektivitas bisnis yang secara agregat akhirnya memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan PDB tidak akan ditebus dengan anggaran belanja sangat besar bagi penanganan dampak perubahan iklim. Era ekonomi baru ini akan memberikan manfaat riil bagi masyarakat dunia.

Berdasarkan data dan informasi yang ada di berbagai negara, Greenitnomics ini telah diimplementasikan walaupun porsinya masih minoritas. Realitas bisnis yang berpijak pada peraturan yang telah ditetapkan oleh negara tersebut diperkirakan akan terus mengalami trend kenaikan. Hasil yang demikian ini tidak terlepas dari pemikiran dan penentuan strategi inovatif berbagai korporasi ICT untuk menggabungkan hasil produk mereka sebagai solusi tanpa menimbulkan masalah baru.

Selain dari sisi internal perusahaan, trend yang terjadi tersebut karena beberapa negara memang secara tegas mengariskan adanya praktik bsinis yang bersih terhadap lingkungan. Di China, pemerintahnya beberapa waktu yang lalu telah mengumumkan akan menutup 2.000 pabrik yang berpolusi tinggi, memiliki manajemen limbah yang buruk, dan boros energi. Dikarenakan kebijakan ini jugalah yang membuat tiga BUMN asal China dalam minggu lalu dipastikan akan merekolasi aktivitas bisnisnya senilai US$ 3,7 miliar ke Indonesia.

Sedangkan di Amerika Serikat, pemerintah setempat pada awal 2010 juga telah mengharuskan berbagai perusahaan ICT berbasis web untuk mengalokasikan renewable energy bagi pembangkit listrik pada data storage centre yang sedang dibangunnya. Regulasi ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan manajemen Facebook yang akhirnya memutuskan untuk mengalokasikan 12 persen renewable energy dalam proyek data storage centre yang akan dibangun oleh perusahaan listrik terkemuka AS, Pacific Power.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah di masa mendatang, Indonesia akan juga mengikuti trend Greenitnomics yang mulai berkembang saat ini? Banyak potensi yang ada di Indonesia sekaligus menjadi bekal berharga untuk menghasilkan berbagai manfaat. Dengan implementasi ini, maka perkembangan ICT dan lingkungan di Indonesia tidak akan saling menegasikan.

*) Artikel ini juga telah dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia pada 8 Oktober 2010

Last modified on Wednesday, 02 March 2011 15:17